Rahasia Hati Bersih: Memahami Perbedaan Hasad dan Ghibtoh

Ustadz Abdurrahman Zahier

23 Agustus 2026

Belum lama ya, jadi kan saya pindah rumah, asalnya di satu distrik dekat ke Masjid Nabawi, terus pindah ke Masjid Qiblatain. Nah, rumah saya yang sebelumnya, yang ngontrak itu, itu ada coret-coretan biasa anak-anak saya suka nyoret-nyoret tembok. Hari saya harus beli cat dulu, nah saya ke toko cat lah, ke dekat Masjid Nabawi.

Satu malam saya beli cat, "Saya mau beli cat ini, saya beli cat putih," saya bilang. Kata dia, mungkin karena penampilan saya kayak mahasiswa apa kayak gimana saya enggak ngerti, kata dia, "Kamu kalau mau yang lebih murah, di toko sebelah." Saya bingung. Ini orang enggak mau saya beli apa gimana? Maksud saya, dia merekomendasikan toko yang sama yang jual cat juga untuk saya ngebelinya, dan dia enggak pernah takut kehilangan customer. Di situ saya termenung.

Saya bilang, "In this economy, masih ada orang yang merekomendasikan toko orang lain dan kompetitornya." Cek toko sebelah. Kenapa dia enggak merasa takut? Karena dia main di arena kompetisi akhirat. Nah, kebanyakan kita merasa kalah karena kita mainnya di arena dunia. Kalau main arena dunia merasa kalah terus. Teman saya lebih jago daripada saya, teman saya lebih banyak follower-nya. Tapi kalau kita main akhirat, enggak akan pernah ngerasa terkalahkan biasa.

Karena hakikatnya kompetisi kita hanya dengan diri kita sendiri. Ini supaya kita enggak hasad, karena karakter penghuni surga itu enggak ada yang hasad. Hasad itu dicabut di mana? Di Qonthoroh, tempat sebelum masuk surga gerbangnya cabut:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

Kami cabut rasa hasadnya, supaya ketika dia saling berpandangan, dia saling menikmati pandangan mereka masing-masing. Kenapa orang paling nyesek itu ngelihat orang pihak yang dihasadin, bahkan dia enggak berani ngelihat? Kadang-kadang dia enggak berani lama-lama ngelihat, karena hasad itu memicu panas di hati dan dia azab. Makanya ketika ada orang hasad kepada kita, itu orang lagi mengazab dirinya sendiri tanpa kita perlu deketin juga dia merasa tersiksa. Itulah hasad.

Maka jangan sampai kita hasad, tapi kita perlu ghibtoh tadi, supaya punya rivalitas dalam beramal saleh, partner dalam beramal saleh.