Jangan Balas Kebodohan dengan Kebodohan
Ustadz Khalid Basalamah
Untuk apa balas kebodohan dengan kebodohan? Nggak usah. Ada orang bicara kasar, tinggalkan aja, nggak usah dilayani. Ada orang ajak berantem, tinggalkan saja, nggak usah layani.
Allah bilang tentang "Ibadurrahman", hamba-hamba Allah pilihan, dalam Surah Al-Furqan:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Kalau orang-orang bodoh mengajak mereka bicara, ugal-ugalan, jangan dilayani! Ini pernah kita jelaskan di dosa besar, masalah ugal-ugalan kalau masih ingat, kan? Nggak usah diikuti. Jangan balas kebodohan orang dengan kebodohan. Justru kualitas kita terlihat di situ, kalau kita tidak membalas kebodohan orang dengan kebodohan.
Begitu juga disebutkan dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berhubungan dengan masalah keimanan, hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah, dan dinyatakan hasan oleh para ulama hadis:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Kaum mukminin yang paling baik imannya adalah yang paling baik akhlaknya," yang paling baik perangainya, karakternya.
Dan ulama coba menjelaskan, seperti apa sih *husnul khuluk* (akhlak yang baik) itu? Hasan Basri, contohnya, berkata, beliau mengatakan: "Al-karamu wal-badzlu wal-ihtimal." Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, suka berbagi.
Kalau ada di diri antum ini—lagi mau makan, lagi mau minum, lagi punya uang, terpikir untuk berbagi sama orang lain—antum baik, itu akhlak yang baik. Dan pasti ada potensi dalam diri kita, sebagaimana setan akan bisikkan supaya kita pelit. Tapi kalau ada ini, berarti ini salah satu yang poin bagus. Dijaga, dirawat, dibiasakan.
Kemudian juga, *Al-Karam* adalah keramahan, *Al-Badzlah* adalah kedermawanan, dan juga *Al-Ihtimal* atau bisa menahan amarah. Tidak balas emosi dengan emosi.